Home - Kuliner - Tetap Eksis Meski Sudah Termakan Zaman
Ilustrasi. (makananindonesia-top.blogspot.com)

Tetap Eksis Meski Sudah Termakan Zaman

Makanan tradisional asli Malang sudah tidak lagi diketahui banyak orang. Makanan-makanan tersebut sangat mudah dijumpai di pasar-pasar tradisional di Malang. Makanan yang ramah dengan lidah masyarakat dan non pengawet sudah terkikis oleh perkembangan zaman sehingga banyak masyarakat yang melupakannya bahkan tidak mengetahui makanan-makanan tersebut. Berikut ulasan reporter MalangMbiyen.com Abdul Jalil Mursyid menelusuri makanan tradisional di Malang.

Abdul Jalil Mursyid, MalangMbiyen.com

SUASANA ramai khas pasar tradisional menyambut kedatangan kami di Pasar Dinoyo. Aroma bau pasar selalu menemani sepanjang mencari makanan tradisional. Tak lama kemudian kami menjumpai beberapa penjual yang menjajakan makanan tradisional.

Dari sekian banyak penjual jajanan pasar, kami melirik salah satu penjual yang berada di tengah Pasar Dinoyo. Kami langsung memesan satu porsi Bledus.

Bledus adalah makanan yang berupa jagung yang telah direbus dan ditaburi kelapa parut diatasnya. Pembuatannya sebenarnya sangat mudah, namun memerlukan banyak waktu.

Suniah, salah satu penjual Bledus menjelaskan, tahap awal pembuatan Bledus yaitu jagung yang dikeringkan kemudian dikukus dalam panci selama kurang lebih 12 jam.

“Saya harus merebus jagungnya ini dari jam 18.00 sampai jam 05.00 Wib,” ujar Suniah

Menurutnya, jagung kering harus direbus tepat waktu, karena setelah selesai direbus, Suniah langsung menjajakan Bledus hasil buatannya itu ke pasar.

Tidak ada variasi bentuk makanan ataupun bentuk penyajian dari Bledus ini karena memang penyajiannya hanya menggunakan daun pisang serta jagung yang telah direbus dan ditaburi parutan kelapa dan juga ditambahi sedikit garam.

Masyarakat Malang banyak yang menyebut nama makanan tersebut Bledus, karena menurut mereka, ketika jagung itu dimakan akan pecah dalam mulut dan biasa sesuatu yang pecah diindentikkan dengan kata ‘Bledus’. Sehingga masyarakat Malang menyebut makanan tersebut Bledus.

Bledus itu sendiri lebih baik disajikan dengan garam. Bagi yang tidak suka dengan rasa asin tidak masalah jika tidak menggunakan garam, karena ada parutan kelapa yang dapat menghilakan rasa hambar yang terdapat pada jagungnya.

Makanan yang jarang ditemui ini mempunyai keunikan dari segi namanya. Banyak orang yang belum mengetahui nama Bledus ini. Ketika kami menanyakan nama tersebut kepada salah satu mahasiswa mereka menjawab tidak tahu bahkan belum pernah mendengar nama tersebut.

Wahyu Priambodo misalnya, dia menyatakan tidak tahu bahkan belum pernah mendengar nama makanan itu.

“Belum pernah saya mendengar nama makanan seperti itu,” ujar mahasiswa Program Studi (Prodi) Peternakan dari salahsatu kampus di Malang.

Menurut Mariyam, salah satu pembeli makanan itu, makanan tradisional ini sangat bagus jika ibu rumah tangga sering membelikan untuk anaknya, karena dapat melestarikan makanan tradisional yang sudah semakin terkikis zaman.

“Bisa juga menjadi suatu yang bersifat edukatif (mendidik, Red.) bagi anak, selain itu juga dari segi rasa juga lumayan enak dan gurih,”ujar Mariyam. (ajm/mza)

 

Check Also

Tradisional, Tapi Tetap Bertahan

MALANG, MalangMbiyen.com – Beda Bledus beda lagi Ongol-ongol. Sama halnya dengan Bledus,  makanan tradisional khas …