Home - Kuliner - Tradisional, Tapi Tetap Bertahan
Ilustrasi. (resepkuekering.org)

Tradisional, Tapi Tetap Bertahan

MALANG, MalangMbiyen.com – Beda Bledus beda lagi Ongol-ongol. Sama halnya dengan Bledus,  makanan tradisional khas Malang yang ini juga tidak banyak orang mengetahui. Makanan tradisional yang satu ini berbahan dasar tepung aren. Bahan dasarnya sangat mudah diperoleh di pasaran. Meliputi tepung aren, gula dan garam secukupnya.

Sedangkan proses pembuatannya pun tak kalah gampangnya dari proses pembuatan Bledus, cara pembuatannya hampir sama ketika kita membuat agar-agar. Kita perlu menyediakan air secukupnya, kemudian tepung aren dimasukkan dan diaduk. Jika agar-agar diaduk terus menurus bertujuan agar santannya tidak pecah, jika Ongol-ongol harus diaduk terus agar tepung arennya tidak mengendap dan akhirnya membeku didasar panci. Kemudian ketika menganduk masukkan sedikit demi sedikit gula dan garam secukupnya.

Selanjutnya kita hanya perlu mengaduknya saja sampai mendidih. Diamkan sejenak sampai tidak terlalu berasap, dan jika sudah dirasa tidak berasap, pindahkan Ongol-ongol setengah jadi ke wadah, kemudian diamkan sampai Ongol-ongol benar-benar menjadi padat.

Gula yang dimasukkan ketika proses pembuatan tadi menjadikan Ongol-ongol berasa legit. Namun, rasa legit itu bisa disamarkan dengan taburan kelapa parut. Rasa kenyal serta manis seketika menyentuh dinding-dinding lidah anda penikmat makanan tradisional. Tak ketinggalan rasa gula merah cair yang diberikan diatas parutan kelapa.

Ongol-ongol sendiri memiliki banyak macam variasi. Sebagian penjual ada yang menjadikannya berwarna hitam, hijau dan coklat tergantung ketika memasak ingin ditambah warna apa dalam olahan yang diaduk tersebut. Penyajiannya bisa dipotong kecil atau besar sesuai selera.

Menurut Sri Wijiyati, salah satu penjual Ongol-ongol, makanan ini banyak sekali peminatnya. Ia bisa menghabiskan satu baskom besar Ongol-ongol dalam setengah hari.

“Biasanya mereka banyak yang membeli campur, yaitu Ongol-ongol dicampur dengan cenil, klepon dan lainnya,” ujar wanita berkacamata tersebut.

Bermacam-macam cara penyajian ditawarkan pedagang. Ada yang disajikan dengan daun pisang kemudian diatas Ongol-ongol ditaburi kelapa parut dan untuk selanjutnya diberi gula merah cair. Ada juga yang hanya disajikan Ongol-ongolnya saja tanpa memberi parutan kelapa ataupun gula merah cair. Ada juga yang menyajikan dengan Ongol-ongol dipotong-potong dan kemudian ditaburi kelapa parut tanpa ada gula merah cair.

Kalangan mahasiswa banyak yang tidak mengetahui makanan tradisional tersebut. Firman Musthofa Hadi contohnya. Ia tidak pernah sama sekali mendengar nama Ongol-ongol.

“Baru kali ini saya mendengar nama makanan Ongol-ongol, ” ujar mahasiswa Jurusan Tarbiyah ini.

Senada dengan Firman, Wafiul Hammam, juga belum pernah mendengar nama makanan yang menurutnya aneh itu.

“Mungkin harus ada sosialisasi, ya,” tutur mahasiswa angkatan 2012 itu dengan nada bercanda. (ajm/mza)

 

Check Also

Tetap Eksis Meski Sudah Termakan Zaman

Makanan tradisional asli Malang sudah tidak lagi diketahui banyak orang. Makanan-makanan tersebut sangat mudah dijumpai …