Home - Ngalam Saiki - Ajar Pusaka Budaya: Kenalkan Kebesaran Malang Masa Lampau
KENALKAN SEJARAH: Sejarawan Malang, Dwi Cahyono saat menceritakan sejarah tentang Candi Singosari kepada siswa SD dan SMP, Minggu (13/12). Acara ini bertujuan untuk mengenalkan sejarah tentang Malang sejak dini kepada siswa. (Zulfikar/MalangMbiyen)

Ajar Pusaka Budaya: Kenalkan Kebesaran Malang Masa Lampau

MALANG, MalangMbiyen.com – Berlatar belakang minimnya pengetahuan masyarakat Malang tentang sejarah daerahnya, pada Selasa (13/12) komunitas Jelajah Jejak Malang berinisiatif mengenalkan masyarakat Malang akan kebesaran sejarahnya melalui kegiatan Ajar Pusaka Budaya. Bertempat di Candi Singosari Kecamatan Singosari Kabupaten Malang, acara ini sekaligus memperingati Hari Sejarah Nasional yang jatuh pada Senin (14/12) besok.

Beragam kegiatan disajikan. Mulai dari telusur Hujung dan Toyomurto, Patirthan dan Arung Kali Klampok, hingga mengenalkan struktur bangunan kuno di lapangan Tumapel. Acara tersebut mendatangkan narasumber seorang Sejarawan dan Arkeolog, Dwi Cahyono.

“Malang memiliki enam kerajaan yang pernah berdiri. Sedangkan, warga Malang hanya mengenal dua kerajaan saja, yakni Kerajaan Singosari dan Kanjuruhan,” terang Devan Firmansyah selaku ketua pelaksana kegiatan.

Devan melanjutkan, sejak jaman purba hingga masa kolonial, Malang memiliki rekam sejarah yang besar. Ia mencontohkan, hingga masa kolonial, ketika masa agresi militer kedua, Soekarno sempat ingin memindahkan ibukota dari Jakarta ke kota lainnya. Malang, menjadi salah satu kandidat pengganti Ibukota Indonesia.

“Istananya akan di tempatkan di Desa Tembalangan, yang sekarang menjelma jadi perumahan di dekat Universitas Brawijaya sana,” katanya saat diwawancarai reporter MalangMbiyen.com disela-sela kegiatan.

“Sayangnya, banyak warga Malang yang tidak tahu kebesaran sejarah daerahnya,” tambah Devan.

Hal ini pula yang melatar belakangi berdirinya komunitas Jelajah Jejak Malang. Komunitas yang dijalankan Devan dan kawan-kawannya sesama pecinta sejarah. Devan berharap, kedepannya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bisa juga turut andil mengadakan acara sejenis.

Acara yang diikuti puluhan siswa Sekolah Dasar dan Menengah Pertama Islam Ibnu Hasyim Malang ini mendapat respon cukup baik dari sejumlah peserta. Salah satunya Falah Haidar Ali. Menurutnya, studi lapangan seperti ini dinilai penting. Karena dengan berkunjung langsung ke lokasi, kita dapat mengenal sejarah Singosari dengan jelas. Falah mengutip perkataan presiden pertama Republik Indonesia Soekarno, yakni Jas Merah atau Jangan Sekali-Sekali Melupakan Sejarah.

“Sebenarnya melalui sejarah, banyak pelajaran penting yang bisa kita ambil,” kata Falah. (acs/mza)

Check Also

Masih Bertahan, Kantor Perbendaharaan Negara

UMAK sering uklam-uklam nag alun-alun? Mungkin objek yang sering ditemui ialah Masjid Jami’ atau gereja, bahkan …