Home - Ngalam Saiki - Belajar Dengan Pemimpin Zaman Dahulu Melalui ‘Sinau Sejarah’
SINAU SEJARAH: Puluhan siswa SD dan SMP mengikuti 'Sinau Sejarah', Minggu (13/12) di Candi Singosari Malang. (Zulfikar/MalangMbiyen)

Belajar Dengan Pemimpin Zaman Dahulu Melalui ‘Sinau Sejarah’

MALANG, Malangmbiyen.com – Komunitas Jelajah Malang kali ini mengadakan belajar sejarah dengan objek sejarahnya sekarang Candi Singosari, Minggu (13/12).

“Sejarah ini merupakan suatu hal yang sering kali dilupakan oleh banyak orang, bukan saja dilupakan bahkan banyak masyarakat yang sering kali salah persepsi tentang sejarah,” jelas Devan Firmansyah selaku salah satu panitia acara tersebut.

Kesalahan orang dalam menafsirkan sejarah berdampak pada perlakuan sejarah setiap orang. Sejarah, lanjut Devan, tidak hanya diketahui tapi juga harus dipahami. Sejarah lebih enak dipelajari dengan cara langsung melihat peninggalan sejarahnya. Hal ini menjadikan Komunitas Jelajah Malang berinisiatif untuk mengadakan metode pembelajaran dengan langsung terjun ke situs-situs bersejarah tersebut.

Menurut Tery, salah satu guru sejarah di sekolah yang mengikuti gelaran ini menyatakan, warga Indonesia saat ini perlu belajar banyak pada sejarah zaman dulu, perlu belajar banyak pada pemimpin-pemimpin terdahulu.

“Hayam Wuruk, Gajah Mada sampai Ken Arok adalah pemimpin terdahulu yang masih bisa menjadi panutan dalam hal kepemimpinan,” jelas guru sejarah tersebut.

SD dan SMP Bani Hasyim Singosari adalah dua sekolah yang memilih belajar sejarah dengan langsung mendatangi bukti sejarahnya. Menurutnya Tery,  anak-anak merupakan penerus bangsa yang memang harus dikenalkan dengan sejarah Indonesia, terutama dengan sejarah Malang.

“Ini merupakan salah satu cara untuk menyelamatkan bangsa dari ketidakpahaman siswa tentang sejarah Indonesia sendiri dan ini merupakan metode pembelajaran yang sangat nyata sehingga dapat secara langsung mengetahui bagaimana perjuangan pemimpin-pemimpin zaman dulu,” katanya.

Tidak perlu terlalu berlebihan berharap untuk Indonesia, lanjut Tery, cukup berawal dari Singosari.

“Singosari adalah tanah pijak mereka pertama kali, apa yang akan dilakukan mereka untuk Singosari ke depannya. Saat ini kami perkenalkan pada siswa inilah singosari zaman sekarang, inilah Singosari zaman dulu, bagaimana Singosari masa depan ada di tangan mereka,” harapnya.
Senada dengan Tery, salah satu peserta “Sinau Sejarah” menyatakan bahwa kegiatan seperti ini menjadikan siswa ditegur lagi untuk banyak membaca.

“Sebenarnya apa yang dijelaskan sama pemateri ini banyak di internet, hanya saja kita yang tidak mau membaca. Jadi intinya jadi siswa seharusnya banyak baca biar tahu banyak dan jangan sampai penerus bangsa melupakan sejarah negaranya,” ujar Falah Haidar Ali, Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMP Bani Hasyim yang mengikuti acara tersebut. (ajm/mza)

Check Also

Masih Bertahan, Kantor Perbendaharaan Negara

UMAK sering uklam-uklam nag alun-alun? Mungkin objek yang sering ditemui ialah Masjid Jami’ atau gereja, bahkan …