Home - Ngalam Saiki - CEPP : Rendahnya Partisipasi Pemilih Dipengaruhi Kebimbangan Masyarakat Terhadap Para Calon
Ilustrasi. (beritasatu.com)

CEPP : Rendahnya Partisipasi Pemilih Dipengaruhi Kebimbangan Masyarakat Terhadap Para Calon

MALANG, malangmbiyen.com – Lingkaran Survei Indonesia (LSI) telah mengeluarkan hasil hitung cepat Pilkada Kabupaten Malang pada Rabu (09/12) lalu. Berdasarkan perhitungan tersebut pasangan nomor urut 1, Rendra – Sanusi muncul sebagai peraih suara terbanyak yakni 52,00 persen. Disusul pasangan  Dewanti – Masrifah dengan perolehan suara sebesar 44,02 persen dan Nurcholis – Mufidz dengan perolehan suara 3,98 persen.

Yang menjadi pusat perhatian bukan hanya masalah siapa  peraih suara terbanyak dalam perhitungan tersebut, tapi juga mengenai minimnya keikutsertaan pemilih dalam Pilkada Kabupaten Malang kali ini. Berdasarkan data LSI, ketidak ikutsertaan para pemilih ini mencapai 57,63 persen.

Menurut Director of Center for Election and Political Party (CEPP) Uni-Link Malang, Asep Nurjaman, rendahnya partisipasi pemilih disebabkan kebimbangan terhadap para calon yang ada.

“Pada awalnya calon incumbent sebenarnya merasa sudah diatas angin, tetapi muncul kekuatan baru yang memberikan terobosan dalam rangka manajemen kampanye,” ujarnya saat ditemui di Kantor Dekan FISIP, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (10/12).

“Mereka yang awalnya pemilih calon incumbent, lalu muncul terobosan baru yang dilakukan calon lain dengan tingkat frekuensi sosialisasi yang begitu gencar maka timbul kebimbangan, kebingungan menentukan pilihan, maka daripada mereka memilih yang salah, lebih baik golput,” terang pria yang juga Dekan FISIP UMM tersebut.

Asep menambahkan, selain kebimbangan menentukan pilihan calon, minimnya jumlah pemilih juga dipengaruhi sikap apatis masyarakat terhadap apa yang dihasilkan dari proses Pilkada.

“Dengan berlangsungnya Pilkada atau tidak, tidak ada pengaruh atau biasa – biasa saja tidak akan memiliki dampak secara langsung kepada mereka (masyarakat. Red),” paparnya.

Untuk mengatasi hal ini, Asep menjelaskan, dalam Pilkada harus memunculkan kandidat baru yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan masyarakat.

“Di Amerika Serikat kenapa Obama muncul, karena dia memiliki sesuatu yang baru, ada harapan baru yang dibawanya,” contohya.

Namun Asep menegaskan, rendahnya keikutsertaan pemilih dalam Pilkada Kabupaten Malang bukan menjadi tolak ukur ketidak berhasilan sistem demokrasi yang menjadi penentu untuk memilih suatu pemimpin di Indonesia.

“Masalah kuantitas itu memang penting karena menyangkut legitimatasi atau tingkat keterwakilan dari yang terpilih, namun di era demokrasi bukan itu (yang menjadi poin pentingnya. Red), tapi prosedur yang jelas, transparan dan legitimate (sah), selama tidak ada penyimpangan maka itu sah secara hukum,” paparnya.

“Mereka yang memilih atau tidak sebenarnya adalah hak, yang penting mereka tidak boleh menggangu (jalannya Pilkada. Red),” pungkasnya. (bsa)

Check Also

Masih Bertahan, Kantor Perbendaharaan Negara

UMAK sering uklam-uklam nag alun-alun? Mungkin objek yang sering ditemui ialah Masjid Jami’ atau gereja, bahkan …