Home - Ngalam Saiki - Pohon 180 Tahun Di Cat, DKP Dikecam Unsur Masyarakat
Pemkot Malang mengecat pohon beringin agar tidak angker (Liputan6.com)

Pohon 180 Tahun Di Cat, DKP Dikecam Unsur Masyarakat

MALANG, Malangmbiyen.com – Pohon beringin berumur sekitar 180 tahun yang ada di Alun-alun Malang di cat oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Malang. Menurut Kepala DKP Erik Setyo Santoso, pengecatan ini sudah dilakukan sejak tiga hari lalu.

“Dicat sejak tiga hari lalu, dengan pengencer air tak berbahaya bagi tanaman,” katanya seperti dikutip dari Tempo.co, Jumat (20/11).

Menurut Erik, kesan angker yang ada pada pohon ini menjadi alasan pihaknya “mewarnai” pohon tersebut.

“Ada aspirasi dari masyarakat, untuk menghilangkan kesan wingit (angker, Red.) di tempat ini,” ujarnya kepada wartawan Surya.

Pohon tersebut diwarnai dengan tiga warna berbeda, yakni hijau, biru, dan jingga. Seperti dirilis dari Surya, Sslain karena alasan angker, pengecatan pohon itu juga sebagai ujicoba. Karenanya Erik tidak menyebutkan berapa pohon yang akan dicat.

Di Protes Masyarakat

Pengecatan pohon ini kemudian menuai kritik dari masyarakat. Ketua Yayasan Inggil Kota Malang, Dwi Cahyono menyayangkan perbuatan yang dilakukan oleh DKP Malang.

“Jelas saya sangat menyayangkan, karena disaat kita aktif mendata semua tanaman yang masuk kategori heritage, DKP justru mengecat pohon yang masuk kategori itu,” kata Dwi Cahyono dikutip dari MalangVoice.com, Sabtu (21/11).

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur bahkan menyatakan apa yang dilakukan DKP sudah masuk unsur pidana. Kuasa Hukum Walhi, Abdul Rohim, seperti dikutip dari MalangVoice.com, mengatakan, tindakan pengecatan pohon itu melanggar Peraturan Daerah (Perda) No 3 Tahun 2003 tentang pengelolaan pertamanan kota.

Ia menjelaskan, dalam Pasal 24 huruf C berbunyi, setiap orang atau badan dilarang merusak, membakar dan menebang pohon yang dikuasai atau milik pemerintah daerah.

“Dalam penjelasan dikatakan merusak pohon itu dengan bentuk menguliti, memberi bahan padat ataupun cair yang bisa mengakibatkan pohon mati dan kehilangan fungsinya,” kata Abdul Rochim.

Ia tegaskan, pengecatan pohon masuk dalam kategori pasal tersebut dan pelakunya sesuai Pasal 29 huruf B bisa diancam pidana kurungan 6 bulan atau denda Rp 5 juta.

“Dalam kasus ini siapa yang memerintah, itu yang bisa dipidanakan,” tegasnya.

Tak hanya ngecat, upaya mengelupasi cat yang dilakukan beberapa petugas DKP, hari ini, ia katakan berdampak kepada kematian pohon.

“Kalau saya lihat ini masuk kategori pidana umum, gak perlu aduan masyarakat,” katanya. (mza)

Sumber : MalangVoice.com, Tempo, Surya

Check Also

Seratus Meter Penuh Makna

GEREJA Protestan Indonesia Barat (GPIB) Immanuel berdiri dengan megahnya di tepat pertigaan jalan merdeka Malang. …