Home - Wisata - Ijen, Jalan Penuh Memori
Kawasan Ijen pada 1950-an. (sumber: ijenboulevard.wordpress.com)

Ijen, Jalan Penuh Memori

Jika ingin berwisata ke Malang, jangan lupa untuk mengunjungi Jalan Ijen. Kawasan jalan ini merupakan salahsatu objek wisata sejarah yang terus dipertahankan baik dari segi fisik maupun estetikanya. Berikut diulas sejarah jalan yang pernah menjadi Taman Terindah se- Asia Tenggara pada 1970-an.

Muhammad Zulfikar Akbar, MalangMbiyen.com

BICARA tentang Jalan Ijen tidak lengkap jika tidak membicarakan perancangnya. Ialah Ir Herman Thomas Karsten. Nama Karsten pada jaman penjajahan Belanda memang sudah cukup terkenal. Lapangan Monumen Nasional (Monas), Stasiun Balapan Solo, dan Taman Diponegoro Semarang merupakan buah karya arsitek kelahiran Amsterdam 22 April 1884.

Jalan hasil rancangannya didesain multifungsi. Tak hanya sedap dipandang, tapi juga nyaman bagi yang meninggali kawasan tersebut serta bagi pejalan kaki dan pengguna kendaraan bermotor. Arus lalu lintas di kawasan ini terbilang ramai lancar, jarang mengalami kemacetan.

Satu abad yang lalu dari sekarang, tentu tidak mudah untuk memperkirakan lebar jalan yang cukup nyaman untuk dua buah mobil berjalan beriringan tanpa mengganggu pengguna pedestrian. Belum lagi titik-titik putar balik yang tidak terlalu jauh serta tidak terlalu dekat sehingga memudahkan petugas lalu lintas untuk mengurai kemacetan.

Kawasan Ijen saat ini. (sumber: malangtimes.com)
Kawasan Ijen saat ini. (sumber: malangtimes.com)

Lokasinya yang strategis menjadikan saat ini, jalan yang dulu bernama Idjen Boulevard menjadi langganan berbagai event dan festival. Seperti festival Malang Tempoe Doeloe, Malang Flower Festival, dan hingga saat ini, Jalan Ijen menjadi tempat penyelenggaraan Car Free Day setiap Minggunya.

Pencanangan Jalan Ijen menjadi Heritage Space Public oleh Pemerintah Kota Malang juga patut diberi acungan jempol. Di kawasan yang dihiasi pohon palm inilah berjejer rumah-rumah dan bangunan penting peninggalan masa kolonial Belanda. Gereja Katedral Ijen atau yang bernama asli Gereja Santa Maria Bunda, Perpustakaan Kota Malang, Monumen Melati, Stadion Gajayana, dan Museum Brawijaya menghiasi kawasan yang dirancang sejak 1914.

Sebagai kompensasi pencanganan Jalan Ijen sebagai kawasan cagar budaya, demi menjaga keasrian dan keetnikannya, setiap penghuni Jalan Ijen dihimbau untuk tidak merubah bangunan-bangunan di lokasi tersebut. Terutama bangunan yang telah berdiri lebih dari 50 tahun. Jalan Ijen menjadi lokasi tepat mempelajari sebagian sejarah Malang dengan beragam bangunan peninggalan disekitarnya.

Meskipun kini rumah-rumah dan bangunan bersejarah tersebut banyak yang beralih fungsi menjadi guest house, namun bentuk fisik dari bangunan tersebut tetap dipertahankan seperti aslinya. Sudah menjadi tanggungjawab semua pihak untuk merawat dan melestarikan aset-aset sejarah yang ada di Malang. (mza)

Diolah dari : Kompas.com, Jalan2.com, Wikipedia.org, Idjen Bouleavard

Check Also

Masih Bertahan, Kantor Perbendaharaan Negara

UMAK sering uklam-uklam nag alun-alun? Mungkin objek yang sering ditemui ialah Masjid Jami’ atau gereja, bahkan …

  • Subhan Setowara

    Iya ta pernah jadi taman terindah se-Asia Tenggara, 1970-an dulu? Wah mantap bener tuh..

    • ayo ikut jaga kelestariannya ya 🙂

      klik malangmbiyen.com untuk informasi lainnya

  • agung

    sebagai warga asli baru tahu hmmm… bagus nih web nya. recomended

    • terimakasih komentarnya, yuk lihat informasi lainnya di malangmbiyen.com 🙂