Home - Wisata - Masyarakat Gunung Kawi, Bhinneka Tunggal Ika Sesungguhnya
Gerbang utama wisata Gunung Kawi. (sumber: panduanwisata.id)

Masyarakat Gunung Kawi, Bhinneka Tunggal Ika Sesungguhnya

Anda pasti mengenal dengan semboyan bangsa ini yakni Bhinneka Tunggal Ika atau yang berarti berbeda-beda tapi tetap satu. Namun, apakah anda mengerti makna sebenarnya dari semboyan tersebut? Berikut ulasan dari reporter MalangMbiyen.com, Abdul Jalil Mursyid.

Abdul Jalil Mursyid, MalangMbiyen.com

PERBEDAAN agama bukan lagi hal yang sensitif di kalangan masyarakat saat ini. Sudah banyak ajakan untuk bertoleransi pada agama lain. Salah satu contoh yang mengajarkan pada kita bagaimana menghormati dan memperlakukan saudara kita yang beda agama adalah kehidupan masyarakat Gunung Kawi yang sangat kental dengan perbedaan agamanya namun tetap rukun dalam kegiatan sosialnya.

Sungguh tidak mudah menyatukan beberapa perbedaan yang sangat mencolok. Namun, hal tersebut tidak berlaku di Kecamatan Wonosari yang berada di lereng Gunung Kawi. Berawal dari kebaikan dan kemurahan hati dua orang yang sangat dipercaya dan sangat membantu Pangeran Diponegoro. Mereka adalah Raden Mas Imam Sudjono dan Kiai Zakaria II.

Masyarakat sekitar biasa memanggil sesepuh ini dengan Eyang Djugo dan Eyang Imam Sudjono. Beliau berdua sangat ringan tangan dalam segala hal, pada semua orang tanpa memandang agama, latar belakang, ekonomi, atau apapun itu yang bersifat membedakan.

Dadi beliau niki boten bedak-bedakno (beliau berdua tidak pernah membedakan-bedakan orang, red.),” tutur Hari dalam Bahasa Jawa.

Setelah wafatnya Raden Mas Ontowiryo yang lebih dikenal dengan Pangeran Diponegoro, Eyang Djugo dan Eyang Iman Sudjono bingung kemana dan kepada siapa beliau harus mengabdikan dirinya. Akhirnya, Eyang Djugo mendirikan sebuah padepokan yang tak jauh dari tempat ia dimakamkan.

Sedangkan Eyang Iman Sudjono memutuskan untuk pergi ke Blitar guna mengabdikan dirinya. Hingga akhirnya Eyang Iman Sudjono meninggal dan dikebumikan di daerah asalnya. Sedangkan, Eyang Djugo meninggal pada tanggal 12 Syuro dan juga dikebumikan disebelah makam Kiai Zakaria II.

Ciamsi, adalah pitutur yang biasanya dikunjungi oleh pengunjung. Ditempat ini mereka mengadu nasib mereka. Inilah tempat yang sangat memegang teguh toleransi beragama. Didalamnya, orang yang beragama Islam, Tionghoa, dan Hindu mengadu nasib mereka dengan mengocok kayu yang berada dalam bamboo. Selain itu ada juga penganut Tionghoa yang khusyu’ menjalankan kepercayaannya.

“Tidak ada yang membeda-bedakan disini, agama apapun boleh berkunjung ke pasarean atau makam kedua orang shaleh tersebut”, ujar sekretaris yang telah berkerja 25 tahun itu.

Selain itu, adanya tempat ibadah yang sangat berdekatan menandakan kerukunan antar umat beragama di daerah yang sebagian warganya petani kopi ini. Jarak antara masjid dan vihara pun sangat berdekatan, bahkan, terletak dalam satu komplek. Hari Prihatin Aji menjelaskan, bahkan ada satu desa RT 1 sebagian besar warganya beragama Katholik. Walaupun dengan adanya perbedaan keyakinan namun, kehidupan yang ada di Desa Wonosari itu tetap hidup rukun berdampingan.

Selanjutnya, pencampuran budaya yang sangat mencolok terlihat ketika diadakan Upacara Seloan. Upacara ini adalah upacara yang digelar setiap tahun dalam rangka memperingati haul atau hari wafatnya Eyang Djugo. Dalam upacara adat ini semua agama dari berbagai kalangan diperbolehkan untuk mengikuti prosesi upacara ataupun hanya ingin melihat lihat saja.

“Upacara Seloan ini memang termasuk upacara yang besar didaerah kami, jadi tidak heran ketika orang yang datang ketika Upacara Seloan sangat banyak,” jelas pria asli Malang itu.

Tidak hanya warga Malang saja yang mengunjungi Wisata Ritual Gunung Kawi ini. Namun, banyak sekali dari daerah-daerah lain di Indonesia yang mengunjungi tempat ini. Ya’kub, seorang warga Kediri menyatakan bahwa setiap tahun rutin pasti ke tempat itu hanya untuk beribadah dan memanjatkan doa.

“Mengunjungi tempat ini merupakan suatu hal yang wajib bagi saya, karena disini saya melakukan ritual dan beribadah sesuai kepercayaan saya,” ujar penganut agama Tionghoa itu.

Dari pihak Wisata Ritual Gunung Kawi ini menyediakan kios-kios secara cuma-cuma yang diperuntukkan warga sekitar guna menopang perekonomian warga. Jumiati, wanita asli Malang itu mengaku sangat senang dengan adanya kios-kios tersebut.

“Tidak dipungut biaya apapun dari pihak pengurus tempat wisata dan itu sangat membantu kami untuk tidak memotong hasil jerih payah kami selam berjualan,” ujar wanita separuh baya tersebut.

Karena sudah sangat terkenal dan mendunia, tak turut ketinggalan turis-turis mancanegara yang berkunjung ke daerah tersebut. Mereka biasanya hanya melihat-lihat saja dan masuk ke dalam Pasarean.

“Mereka berasal dari Hongkong, Singapura, Jepang yang biasanya berkunjung ke daerah tempat Wisata Ritual Gunung Kawi ini,” tutur Hari Prihatin Aji kelahiran 1968 itu. (ajm/mza)

Check Also

Masih Bertahan, Kantor Perbendaharaan Negara

UMAK sering uklam-uklam nag alun-alun? Mungkin objek yang sering ditemui ialah Masjid Jami’ atau gereja, bahkan …