Home - Wisata - Wisata Legendaris Singosari (1): Watu Gede Pemandian Konservasi Budaya
Tampak kolam pemandian Watu Gede. (sumber: panoramio.com)

Wisata Legendaris Singosari (1): Watu Gede Pemandian Konservasi Budaya

Singosari, kerajaan besar yang banyak meninggalkan tempat-tempat bersejarah. Sejarah inilah yang perlu diketahui banyak orang sehingga kita tidak buta dengan sejarah di tempat dimana kita tinggal. Ayo ker!, simak liputan jalan-jalan malangmbiyen.com di tempat bersejarah peninggalan Kerajaan Singosari.

Abdul Jalil Mursyid, malangmbiyen.com

SEJARAH Kerajaan Singosari menjadi cikal bakal lahirnya nusantara, yang diteruskan oleh kerajaan Majapahit melalui runtuhnya kejayaan Singosari. Sehingga peninggalan Singosari merupakan penerus lahirnya nusantara di bawah kepemimpinan Raden Wijaya masa Majapahit di tahun 1932.

Kejayaan Kerajaan Singosari tersebut dibuktikan dengan peninggalan-peninggalan berupa prasasti Singosari yang dilestarikan oleh pemerintah daerah Kota Malang, seperti pemandian Watu Gede dan Kedung Biru. Sangat mudah untuk menemui lokasi pemandian Watu Gede, karena lokasi pemandian tersebut terletak 200 meter dari stasiun Singosari masuk ke Desa Watu Gede.

Sesampainya di lokasi, kami disambut dengan papan sederhana yang bertuliskan “Patirtaan Pemandian Watu Gede”. Di pemandian tersebut kami menjumpai dua juru kunci yang mengelola Pemandian tersebut. Menurut Agus Suryanto, salah seorang pengelola Pemandian mengatakan bahwa pemandian Watu Gede merupakan cagar budaya peninggalan dari masa kerajaan Singosari yang dijadikan sebagai kaputren. Kaputren merupakan tempat siraman seorang putri pada masa itu yakni Putri Kendedes yang memiliki nama lain Nareswari.

Pemandian Watu Gede ditemukan pada 1931 oleh Dinas Purbakala Hindia Belanda  ketika itu. Tulisan awal pada papan pintu masuk menunjukkan kata patirtaan, yaitu sumber air yang dimanfatkan menjadi tempat irigasi persawahan. Selain itu, sumber tersebut juga dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk aktivitas keseharian. Saat ditemukan, sumber air begitu deras dan terdapat goa kecil disudut tempat pemandian. Sumber air ini ditimbun demi mendapatkan aliran mata air yang bercabang agar dapat dialirkan ke berbagai arah.

Sementara itu, pemandian Watu Gede atau lebih dikenal dengan pemandian Kendedes tersebut merupakan peninggalan Kerajaan Tumapel. Setelah Kerajaan Tumapel, maka digantikan oleh Kerajaan Singosari.

“Pada malam satu Sura, banyak orang yang mengunjungi pemandian Watu Gede,” ujar Agus yang menjadi pengelola sejak 1996 tersebut. Biasanya yang dilakukan pada malam satu Sura adalah ritual atau upacara keagamaan.

Tepat di sebelah goa terdapat payung, tempat bunga, dan palinggih, palinggih merupakan tugu kecil yang memiliki ukiran bunga, menghiasi sudut kolam air tersebut. Tidak jauh dari sudut kolam, tertata rapi tumpukan bata-bata yang masih merekat satu sama lainnya, bata-bata tersebut asli peninggalan Singosari dari bangunan kolam yang belum hancur oleh kikisan air. Selain batu bata, terdapat pula patung di sudut kolam dekat palinggih, patung tersebut yang dahulu memancarkan aliran air dari sumber.

Toyib, pengelola Watu Gede mengatakan bahwa bangunan asli pada masa Singosari masih berupa ruang yang terdapat pancuran air dari masing-masing patung.

“Dahulu terdapat sebuah candi di tengah kolam dan terdapat patung pemancar air di setiap sisi kolam, namun sekarang hanya tersisa satu patung pemancar air saja,” jelas pengelola tersebut.

Tampak kolam pemandian Watu Gede secara keseluruhan
Tampak kolam pemandian Watu Gede secara keseluruhan. (Jalil/MalangMbiyen)

Selama ditemukan hingga sekarang, tidak ada renovasi yang bersifat menghilangkan keaslian dari pemandian tersebut. Hanya penambahan yang bersifat menyelamatkan situs asli agar tidak rusak oleh siklus alam. Seperti pembangunan pondasi di tepi kolam, agar tanahnya tidak longsor. Sehingga dapat disimpulkan pula pemandian tersebut sebagai tempat konservasi.

Selanjutnya, daya tarik yang diberikan oleh pemandian tersebut adalah suasana yang masih terasa alami.

“Akan memberikan ketenangan karena sirkulasi energi alam yang berbeda dapat mempengaruhi pikiran,” ucap Agus, pria asal Malang Selatan tersebut.

Nuryadi, anggota dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCD) menjelaskan pula bahwa Pemandian Watu Gede merupakan peninggalan asli dari Kerajaan Singosari.

”Terdapat dua pemandian di Malang yang disebut Pemandian Kendedes, yaitu Pemandian Watu Gede dan Pemandian Kendedes Malang, namun pemandian asli yang memiliki sejarah Singosari adalah Pemandian Watu Gede,” jelasnya. (bersambung)

Check Also

Masih Bertahan, Kantor Perbendaharaan Negara

UMAK sering uklam-uklam nag alun-alun? Mungkin objek yang sering ditemui ialah Masjid Jami’ atau gereja, bahkan …