Home - Wisata - Wisata Legendaris Singosari (3-Habis): Kasurangganan, Warisan Lama dalam Kitab Negarakertagama
Candi Sumberawan yang berada dalam satu kawasan Taman Bidadari. (sumber:

Wisata Legendaris Singosari (3-Habis): Kasurangganan, Warisan Lama dalam Kitab Negarakertagama

Perjalanan kami masih berlanjut. Menuju arah barat, menempuh perjalanan enam kilometer dari Candi Singosari menuju satu lagi peninggalan Kerajaan Singosari, yaitu Taman Bidadari atau Kasurangganan.

Abdul Jalil Mursyid, malangmbiyen.com

MELEWATI permukiman penduduk di Desa Toyomarto Kecamatan Singosari, kami memasuki persawahan dengan jalanan bebatuan hingga sampai di taman tersebut.

Sesampainya di jembatan masuk taman, kami dikejutkan dengan pemandangan  puluhan kupu-kupu kuning di atas jembatan Kasurangganan yang terbang mengelilingi kami. Lokasi Taman Bidadari tersebut diperkuat dengan banyaknya pohon-pohon pinus yang menjulang di pinggir jalan setapak.

Rosyidah, seorang yang turut mengelola pemandian tersebut menceritakan bahwa Kasurangganan memiliki sumber air terbesar di masa Kerajaan Singosari.

“Kasurangganan berdiri di atas sumber mata air yang disebut Sumberawan, dan mata air tersebut berasal dari celah-celah batu lingustik yang tergolong sangat langka,” cerita juru kunci Kasurangganan tersebut.

Sumberawan berasal dari kata sumber dan rawa. Karena banyaknya sumber di rawa tersebut, maka daerah Kasurangganan disebut Sumberawan. Adapun Sumberawan sendiri memiliki beberapa fungsi dalam unsur meditasi, salah satunya yaitu mandi untuk mensucikan diri.

Pengelola serta ahli sejarah Kasurangganan, Nuryadi mengatakan bahwa Kasurangganan telah terangkum dalam kitab Negarakertagama sebagai tempat sakral masa Singosari, selain dua tempat lainnya, yaitu Kedung Biru dan Bureng yang terkenal dengan sebutan Wendid saat ini. Konon, Kasurangganan ini menjadi tempat meditasi para pembesar kerajaan seperti kaputren atau putri para raja. Kasurangganan memiliki sumber mata air yang digunakan sebagai air pemujaan dan pensucian diri.

“Air Amerta yang berasal dari Sumberawan yang memiliki simbol kesucian,” ujar ahli sejarah Kasurangganan tersebut.

Karakteristik Air Amerta di Taman Bidadari

Air Amerta merupakan air yang berasal dari Sumberawan tepatnya Kasurangganan. Air tersebut dipercaya oleh masyarakat sebagai air penyembuh penyakit yang bisa menambah harta dan tahta. Air Amerta merupakan sebuah simbol kesucian bagi para pembesar kerajaan. Karena hanya penghuni kerajaan saja yang dapat menikmati Air Amerta tersebut. Adapun karakteristik Air Amerta adalah sebagai meditasi yang memiliki dua konsep, yaitu sebagai meditasi dan transformasi.

Taman tersebut dijadikan tempat meditasi para putri raja dan sebagai transformasi. Konsep transformasi yaitu merubah air biasa menjadi air amerta yang dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam jenis penyakit.

Rosyidah juga mengulas tentang isi Kitab Negarakertagama yang menceritakan ritual tabor bunga di pemandian tersebut.

Nepati huwus mamuspa ri dalem sudharmma sakatustaningtwas ginong hanan i kdung biru ri kasurangganan mwang i bureng langonyenitung (adanya prosesi upacara penaburan bunga sebagai bentuk ritual meditasi bagi para pembesar Kerajaan Singosari),” cerita Rosyidah.

Untuk melakukan ritual meditasi sendiri maka diperlukan sebuah prosesi sakral yang bisa mendukung suasana meditasi. Dimulai dari tempat yang tenang, serta didukung oleh adanya mata air sebagai tahapan dalam proses pensucian diri. Maka Kasurangganan merupakan pilihan bagi para pembesar Kerajaan Singosari sebagai proses mensucikan diri.

Kasurangganan juga merupakan warisan Singosari yang beralih ke tangan Kerajaan Majapahit. Sehingga mengalami perubahan karakter pada taman tersebut. Semula Kasurangganan merupakan simbol agama Hindu, namun di masa Majapahit, Hayam Wuruk membangun sebuah Candi yang dinamakan Candi Sumberawan yang berupa stupa.

Selain sebagai tempat meditasi, suasana alam yang masih tergolong alami juga membuat daya tarik tersendiri.

“Saya sangat senang mengunjungi taman ini, terlebih jika bertepatan dengan perayaan Waisak karena banyak biksu yang mengunjungi taman ini,” ujar Maidah, pengunjung Taman Bidadari tersebut. (***)

Check Also

Masih Bertahan, Kantor Perbendaharaan Negara

UMAK sering uklam-uklam nag alun-alun? Mungkin objek yang sering ditemui ialah Masjid Jami’ atau gereja, bahkan …